KEDIRI - Satu lagi even budaya akan digelar oleh Kantor Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Kediri bekerja sama dengan Radar Kediri. Namanya, Lomba Cipta Karya Tari Kontemporer.
Lomba ini mensyaratkan pesertanya harus berdomisili di wilayah Kabupaten Kediri. Mereka yang ikut bisa wakil dari kecamatan, organisasi, lembaga, seniman perorangan atau kelompok seniman yang anggotanya pelajar, mahasiswa, dan guru kesenian.
"Kegiatan ini merupakan ide dari Pak Bupati (Sutrisno). Tujuannya, supaya Kabupaten Kediri memiliki sebuah karya tari yang layak dijual," kata Kepala Kantor Parsenibud Mujianto kemarin.
Tari yang dilombakan harus karya terbaru dan belum pernah ditampilkan. Bentuknya, bisa koreografi tari tunggal yang disajikan berkelompok, tari berpasangan, tari kelompok, dan drama tari atau fragmen. Setiap kelompok terdiri dari lima sampai sembilan penari. Dengan durasi penyajian dibatasi 5-7 menit. Setiap peserta, mulai dari penata tari, penata musik, penata rias, dan penari, tidak diperbolehkan merangkap.
Menurut Mujianto, dalam lomba berhadiah total Rp 20 juta ini, selain baru, karya tari yang diikutkan harus memanfaatkan kekuatan seni tradisi atau etnik. "Bisa dikolaborasikan dengan seni sulap, akrobatik, atau unsur-unsur lain yang membuat karya itu menjadi lebih menarik, atraktif, dan mengemparkan," saran Mujianto.
Saat mendaftarkan, peserta wajib menyerahkan deskripsi sajian. Isinya sinopsis, ide garapan, dan garapan iringan tari. Panitia akan menyediakan fasilitas berupa panggung ukuran 10 x 12 meter, lampu, sound system, gamelan Jawa pelog dan slendro satu perangkat.
Juaranya, akan ditetapkan sebagai duta seni Kabupaten Kediri. Yang berpeluang ditampilkan di berbagai even di beberapa daerah. Sepuluh finalis lomba ini juga akan ditampilkan pada acara drama kolosal pada Pekan Budaya dan Pariwisata, 17 Juni 2008 di Simpang Lima Gumul.
Babak penyisihan lomba yang pendaftarannya digratiskan ini akan berlangsung 14 - 15 Mei di Gedung Bawanta Bhari, Jalan Pamenang 1. Finalnya, di tempat yang sama, pada 29 Mei 2008. "Technical meetingnya 12 Mei," ujar Mujianto.
Pendaftaran di Kantor Parsenibud Kabupaten Kediri Jl Panglima Sudirman 141 (timur alun-alun) telepon (0354) 691776, Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri Jl Letjen Suprapto 42 (0354) 680670, atau di Kantor Radar Kediri Jl Brawijaya 27 D. Peserta bisa mendaftarkan diri mulai hari ini hingga 10 Mei 200
Kamis, 03 April 2008
Hindari Kepunahan bahasa jawa , Gelar Seminar
TULUNGAGUNG - Bahasa Jawa sebagai bahasa ibu kini mulai tergeser dengan Bahasa Indonesia. Kaum muda juga mulai jarang menggunakan Bahasa Jawa dalam pergaulan sehari-hari. Karena itu jika tidak segera ditanggulangi, maka semakin lama Bahasa Jawa akan semakin suram atau tak pernah digunakan lagi.
Hal itu disampaikan Akhmad Pitoyo dalam acara Seminar Sehari Bahasa Jawa Tingkat Regional Jawa Timur yang diselenggarakan di aula Liiur kemarin. Di hadapan ratusan peserta yang terdiri atas guru, seniman serta budayawan, Akhmad Pitoyo mengingatkan pentingnya peningkatan budaya dan tata krama Jawa di keluarga, sekolah dan masyarakat.
"Tata krama bagi orang Jawa itu menata hubungan antara yang muda dengan yang tua, juga antara sesama. Termasuk tindakan dan perkataan harus sesuai dengan posisi masing-masing," ucap lelaki yang juga ketua Dinas Informasi Komunikasi dan Data Elektronik Pemkab Tulungagung ini.
Selain Akhmad Pitoyo, dalam seminar yang diselenggarakan oleh Sanggar Triwida tersebut juga menghadirkan Kepala Balai Bahasa Surabaya Drs Amir Mahmud MPd. Pada kesempatan tersebut, Amir Mahmud membeberkan tentang pengajaran Bahasa Jawa di Jawa Timur. Dia mengupas tentang keberadaan Bahasa Jawa saat ini sampai pembelajaran yang standar dan praktis.
Sedangkan Ketua Sanggar Triwida yang juga pimpinan redaksi majalah Gayatri Drs Sunarko Budiman mengupas tentang geguritan. Lewat seminar tersebut, dia berharap agar orang Jawa tidak melupakan bahasa dan sastra Jawa. "Ini salah satu upaya untuk mempertahankan keberadan bahasa dan sastra Jawa. Jika tidak bisa jadi Bahasa Jawa akan punah,"
Hal itu disampaikan Akhmad Pitoyo dalam acara Seminar Sehari Bahasa Jawa Tingkat Regional Jawa Timur yang diselenggarakan di aula Liiur kemarin. Di hadapan ratusan peserta yang terdiri atas guru, seniman serta budayawan, Akhmad Pitoyo mengingatkan pentingnya peningkatan budaya dan tata krama Jawa di keluarga, sekolah dan masyarakat.
"Tata krama bagi orang Jawa itu menata hubungan antara yang muda dengan yang tua, juga antara sesama. Termasuk tindakan dan perkataan harus sesuai dengan posisi masing-masing," ucap lelaki yang juga ketua Dinas Informasi Komunikasi dan Data Elektronik Pemkab Tulungagung ini.
Selain Akhmad Pitoyo, dalam seminar yang diselenggarakan oleh Sanggar Triwida tersebut juga menghadirkan Kepala Balai Bahasa Surabaya Drs Amir Mahmud MPd. Pada kesempatan tersebut, Amir Mahmud membeberkan tentang pengajaran Bahasa Jawa di Jawa Timur. Dia mengupas tentang keberadaan Bahasa Jawa saat ini sampai pembelajaran yang standar dan praktis.
Sedangkan Ketua Sanggar Triwida yang juga pimpinan redaksi majalah Gayatri Drs Sunarko Budiman mengupas tentang geguritan. Lewat seminar tersebut, dia berharap agar orang Jawa tidak melupakan bahasa dan sastra Jawa. "Ini salah satu upaya untuk mempertahankan keberadan bahasa dan sastra Jawa. Jika tidak bisa jadi Bahasa Jawa akan punah,"
Baru Berbunga Sudah Ditebas
SUMBERJAMBE - Durian khas Sumberjambe sudah lama menjadi incaran pedagang luar kota. Buktinya, durian di kawasan Randuagung sering ditebas sebelum masa panen. Tak tanggung-tanggung, penebasnya pengepul lokal yang sudah mendapatkan pesanan dari luar kota.
Kepala Desa (Kades) Randuagung H Kusnanto mengungkapkan, agar tidak kehabisan menjelang kontes durian 5-6 April nanti, pihaknya menyetop warganya agar tidak memanen semuanya. Bahkan, dari 25 petani yang memiliki 150 pohon, varietas unggulannya harus disiapkan dulu. "Kami menyiapkan empat varietas, salah satunya Che Ronjengan dan Che Tampuk Mereng," katanya.
Pihaknya bakal memanfaatkan kontes durian pertama di Jember ini untuk mempromosikan kekhasan durian Randuagung. Ke depan, pihaknya juga akan mengatur dan mengelola pemasaran agar pedagang memiliki daya tawar lebih. "Jangan sampai dihargai murah. Lha, gimana tidak murah, wong baru kembang saja sudah ditebas," ujarnya.
Senada, Kades Gunungmalang Budiharyono mengungkapkan selama ini kendala pemasaran harus segera diatasi dengan pemasaran yang bagus. "Untuk itu, kontes durian ini adalah kesempatan baik untuk memasarkan produk Sumberjambe," katanya.
Menurut Camat Sumberjambe Mukhair Jauhari, hari pertama kontes pihaknya menyiapkan 7.000 buah durian untuk mengantisipasi pengunjung yang transaksi di tempat. Sehingga, untuk mengatasi menumpuknya pembeli, transaksi langsung ditangani Koperasi Agrobisnis Tsamaroh. "Selain durian, pengunjung juga bisa menikmati dodol, kue, selai, wajik, dan beragam kreasi yang terbuat dari durian. Semuanya sudah dipraktikkan oleh ibu-ibu PKK kabupaten dan kecamatan," katanya.
Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan (Dispertan) Kabupaten Jember Ir Hari Wijayadi menegaskan, kontes ini menjadi jembatan untuk mengangkat potensi daerah. Pengunjung tidak hanya menikmati buahnya, namun mereka juga bisa menanyakan langsung secara detail bagaimana tata tanam, perlakuan, hingga mengatasi hama. "Kami sendiri sudah menyiapkan ribuan bibit untuk durian, sehingga untuk budidaya, tidak perlu khawatir," ujarnya
Kepala Desa (Kades) Randuagung H Kusnanto mengungkapkan, agar tidak kehabisan menjelang kontes durian 5-6 April nanti, pihaknya menyetop warganya agar tidak memanen semuanya. Bahkan, dari 25 petani yang memiliki 150 pohon, varietas unggulannya harus disiapkan dulu. "Kami menyiapkan empat varietas, salah satunya Che Ronjengan dan Che Tampuk Mereng," katanya.
Pihaknya bakal memanfaatkan kontes durian pertama di Jember ini untuk mempromosikan kekhasan durian Randuagung. Ke depan, pihaknya juga akan mengatur dan mengelola pemasaran agar pedagang memiliki daya tawar lebih. "Jangan sampai dihargai murah. Lha, gimana tidak murah, wong baru kembang saja sudah ditebas," ujarnya.
Senada, Kades Gunungmalang Budiharyono mengungkapkan selama ini kendala pemasaran harus segera diatasi dengan pemasaran yang bagus. "Untuk itu, kontes durian ini adalah kesempatan baik untuk memasarkan produk Sumberjambe," katanya.
Menurut Camat Sumberjambe Mukhair Jauhari, hari pertama kontes pihaknya menyiapkan 7.000 buah durian untuk mengantisipasi pengunjung yang transaksi di tempat. Sehingga, untuk mengatasi menumpuknya pembeli, transaksi langsung ditangani Koperasi Agrobisnis Tsamaroh. "Selain durian, pengunjung juga bisa menikmati dodol, kue, selai, wajik, dan beragam kreasi yang terbuat dari durian. Semuanya sudah dipraktikkan oleh ibu-ibu PKK kabupaten dan kecamatan," katanya.
Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan (Dispertan) Kabupaten Jember Ir Hari Wijayadi menegaskan, kontes ini menjadi jembatan untuk mengangkat potensi daerah. Pengunjung tidak hanya menikmati buahnya, namun mereka juga bisa menanyakan langsung secara detail bagaimana tata tanam, perlakuan, hingga mengatasi hama. "Kami sendiri sudah menyiapkan ribuan bibit untuk durian, sehingga untuk budidaya, tidak perlu khawatir," ujarnya
Langganan:
Postingan (Atom)